INTERNASIONAL

Buntut Bawahannya Terlibat Korupsi, Presiden Vietnam Nguyen Xuan Phuc Mengundurkan Diri

 STRATEGINEWS.co, Jakarta – Presiden Vietnam Nguyen Xuan Phuc mengajukan pengunduran diri dari jabatannya pada Selasa (18/1/2023).

Pengunduran diri Phuc dilakukan setelah partai penguasa, Partai Komunis Vietnam menyatakan Phuc bertanggung jawab atas pelanggaran dan kesalahan sejumlah pejabat di bawahnya.

“Sepenuhnya menyadari tanggung jawabnya di hadapan partai dan rakyat, dia mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri dari posisi yang ditugaskan, berhenti dari pekerjaannya dan pensiun,” kata Komite Pusat partai, sebagaimana yang dilaporkan Kantor Berita Vietnam, melansir Al Jazeera.

Pengunduran diri Phuc ini menyusul upaya anti-korupsi yang gencar digalakkan partai penguasa. Kampanye itu menyebabkan penangkapan terhadap puluhan pejabat yang terlibat dalam skandal korupsi.

Upaya partai untuk memerangi korupsi juga berujung pada pemecatan dua wakil perdana menteri, yakni Pham Binh Minh dan Vu Duc Dam.

Bulan lalu, partai memberikan sangsi Menteri Luar Negeri Bui Thanh Son atas dugaan keterlibatan beberapa pejabat kementerian dan diplomat dalam skandal penerbangan repatriasi.

Dikutip dari DW, adanya desas-desus bahwa istri presiden terlibat dalam apa yang disebut skandal korupsi Viet A telah beredar lama.

Skandal itu mengakibatkan Nguyen Thanh Long, mantan Menteri Kesehatan; dan Chu Ngoc Anh, mantan Menteri Sains dan Teknologi, dikeluarkan dari Partai Komunis pada bulan lalu.

Skandal korupsi Viet A dinamai menurut perusahaan semi-swasta yang memasok alat tes Covid-19. Pejabat disuap untuk memasok rumah sakit dan komunitas lokal dengan alat tes Covid-19 yang sangat mahal.

Penipuan tersebut diperkirakan telah menjaring sekitar 172 juta dolar AS atau sekitar Rp2,6 triliun untuk Viet A. Sebanyak 34 juta dolar AS di antaranya diduga langsung digunakan untuk menyuap pejabat Vietnam.

Sejumlah spekulasi menyebut bahwa kemungkinan penerus Phuc adalah To Lam, Menteri Keamanan Publik. Ia telah mendapatkan kepercayaan Sekretaris Jenderal Partai Komunis, Nguyen Phu Trong dalam mengarahkan penyelidikan antikorupsi. Lam awalnya diperkirakan akan meninggalkan kantornya pada bulan April karena batasan masa jabatan menteri yang tidak resmi.

“Promosi cepat ke kursi kepresidenan akan memungkinkan Lam untuk tetap dalam posisi yang kuat sementara juga berusaha mempertahankan kendali atas kementerian keamanan dari kantor kepresidenan yang sebagian besar bersifat seremonial,” kata seorang profesor di National War College di Washington, Amerika Serikat (AS), Zachary Abuza.

Phuc dikenal sebagai pemimpin Vietnam yang berorientasi Barat. Ia menduduki jabatannya sejak 2021, setelah lima tahun menduduki jabatan sebagai perdana menteri . Dia dipandang sebagai salah satu teknokrat utama dalam Partai Komunis yang berkuasa, dan dia telah mengembangkan hubungan dekat dengan Barat selama masa jabatannya.

[asumsi/red]

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Read More